Rabu, 28 Agustus 2013

Pengertian dan contoh diksi, ungkapan, majas, dan peribahasa


Bang-Faster | Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.

Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran - kata formal atau informal dalam konteks sosial - adalah yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.

Diksi terdiri dari delapan elemen: Fonem, Silabel, Konjungsi, Hubungan, Kata benda, Kata kerja, Infleksi, dan Uterans.

Ungkapan merupakan gabungan kata yang maknanya sudah menyatu dan tidak ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya. Idiom atau disebut juga dengan ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk arti baru dimana tidak berhubungan dengan kata pembentuk dasarnya.

Ungkapan adalah gabungan dua kata atau lebih yang digunakan seseorang dalam situasi tertentu untuk mengkiaskan suatu hal. Ungkapan terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih. Gabungan kata ini jika tidak ada konteks yang menyertainya memiliki dua kemungkinan makna, yaitu makna sebenarnya (denotasi) dan makna tidak sebenarnya (makna kias atau konotasi). Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah gabungan kata itu termasuk ungkapan atau tidak, harus ada konteks kalimat yang menyertainya. Untuk lebih jelasnya kita ambil sebuah contoh

Membanting tulang

Gabungan kata di atas tidak dapat langsung kita katakan termasuk ungkapan. Hal ini dikarenakan konteks kalimat yang menyertai gabungan kata tersebut belum jelas. Gabungan kata di atas masih mempunyai dua kemungkinan makna sesuai konteks kalimatnya.

    Andi membanting tulang di sampingnya sebagai luapan kemarahannya.
    Andi membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Dua kalimat di atas memberikan konteks (situasi) pada gabungan kata “membanting tulang.” Kalimat (a) membantuk makna denotasi atau makna sebenarnya pada gabungan kata “membanting tulang.” Makna denotasi tersbut adalah kegiatan membanting tulang. Kalimat (b) membentuk makna konotasi atau makna kias pada kata “membanting tulang.” Makna kias tersebut adalah bekerja keras. Makna kedua inilah membuat gabungan kata di atas disebut ungkapan.

Berikut adalah contoh ungkapan :

    banting tulang : kerja keras
    gulung tikar : bangkrut
    angkat kaki : pergi
    naik pitam : marah
    buah bibir : topik pembicaraan
    angkat tangan : menyerah
    meja hijau : pengadilan
    buah tangan : oleh-oleh
    kutu buku : orang yg suka baca buku
    kepala dingin : tenang

Contoh kalimat dengan:

    Mereka sudah banyak makan garam dalam hal itu. (banyak pengalaman)
    Hati-hati terhadapnya, ia terkenal si panjang tangan. (suka mencuri)
    Jeng Sri memang tinggi hati.(sombong)
    Karena ucapan orang itu, Waluyo naik darah.(marah)
    Itulah akibatnya kalau menjadi anak yang berkepala batu. (tidak mau menurut)
    Hati-hati terhadap orang yang besar mulut itu. (suka membual)
    Merah telinganya ketika ia dituduh sebagai koruptor. (marah)
    Karena gelap mata, dia mengamuk di kantor. (hilang kesabaran)
    Lebih baik berputih tulang daripada hidup menanggung malu seperti ini. (mati)
    Ketika kutinggalkan dulu engkau masih merah, sekarang sudah seorang jejaka. (masih bayi)
    Selama pertandingan sepak bola itu, benar-benar dia menjadi bintang lapangan. (pemain yang baik)
    Pidatonya digaraminya dengan lelucon sehingga menarik para pendengarnya. (dibumbui; dihiasi)
    Lagi-lagi aku yang dikambing hitamkan bila timbul keributan di kelas. (orang yang dipersalahkan)
    Maaf, aku tak sudi kaujadikan aku sebagai kuda tunggangmu. (kausuruh-suruh untuk kepentinganmu)
    Kalau rasa permusuhan itu tidak dicabut sampai akar-akarnya, hubungan kalian tak pernah baik. (dihilangkan benar-benar)
    “Gema Tanah Air” sebuah bunga rampai yang disusun oleh H.B. Jassin. (buku yang berisi kumpulan karangan beberapa orang)
    Kalau bekerja dengan setengah hati, hasilnya kurang memuaskan.(tidak sungguh-sungguh)



Majas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis [1].
Jenis-jenis Majas
Majas perbandingan

    Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.

Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

    Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.

Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.

    Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".

contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.

    Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.

contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.

    Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
    Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
    Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
    Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
    Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.

Contoh: Karena sering menghisap jarum, dia terserang penyakit paru-paru.(Rokok merek Djarum)

    Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
    Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.

Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku.

    Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Contoh: Gedung-gedung perkantoran di kota-kota besar telah mencapai langit.

    Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.

Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku.

    Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
    Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.

    Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.

contoh:Indonesia bertanding volly melawan Thailand.

    Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.

contoh:Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?

    Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
    Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

contoh:Perilakunya seperti ular yang menggeliat.

    Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
    Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
    Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.

contoh:Kita bermain ke rumah Ina.

    Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
    Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.

Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
Majas sindiran

    Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.

Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.

    Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
    Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).

Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?

    Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
    Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

Majas penegasan

    Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
    Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Contoh: Saya naik tangga ke atas.

    Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
    Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
    Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
    Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
    Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
    Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
    Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
    Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
    Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
    Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
    Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
    Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
    Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
    Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
    Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
    Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
    Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
    Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
    Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
    Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
    Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
    Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
    Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

Majas pertentangan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas pertentangan

    Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
    Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa.
    Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.

Macam-Macam Majas dan Contohnya

Macam-Macam Majas dan Contohnya – Halo teman-teman, sudah tahu belum apa itu Majas ? Kalau belum tahu mari kita bahas bersama Macam-Macam Majas dan Contohnya. Majas adalah Gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran si pengarang.
Macam-Macam Majas dan Contohnya :

1) Majas Metafora adalah Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru. Contoh : Raja siang, kambing hitam

2) Majas Alegori adalah Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh. Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi

3) Majas Personifikasi adalah Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup. Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk

4) Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) adalah Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk

5) Majas Antilesis adalah Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh : Air susu dibalas air tuba

6) Majas Hiperbola adalah Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan. Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan

7) Majas Ironi adalah Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus. Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca

8 ) Majas Litotes adalah Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati. Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )

9) Majas Sinisme adalah Majas yang menyatakan sindiran secara langsung. Contoh : Perilakumu membuatku kesal

10) Majas Oksimoron adalah Majas yang antarbagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Contoh : Cinta membuatnya bahagia, tetapi juga membuatnya menangis

11) Majas Metonimia adalah Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang

12) Majas Alusio adalah Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945

13) Majas Eufemisme adalah Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan. Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan

14) Majas Elipsis adalah Majas yang manghilangkan suatu unsure kalimat. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )

15) Majas Inversi adalah Majas yang dinyatakan oleh pangubahan suatu kalimat. Contoh : Aku dan dia telah bertemu > Telah bertemu, aku dan dia

16) Majas Pleonasme adalah Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan

17) Majas Antiklimaks adalah Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun. Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa

18) Majas Klimaks adalah Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat. Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek

19) Majas Retoris adalah Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabanya sudah diketahui. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?

20) Majas Aliterasi adalah Majas yang memanfaatkan kata – kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Inikah Indahnya Impian ?

21) Majas Antanaklasis adalah Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah

22) Majas Repetisi adalah Majas perulangan kata – kata sebagai penegasan. Contoh : Selamat tinggal pacarku, selamat tinggal kekasihku

23) Majas Paralelisme adalah Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, disusun dalam baris yang berbeda. Contoh : Hati ini biru Hati ini lagu Hati ini debu

24) Majas Kiasmus adalah Majas yang berisi perulangan dan sekaligus mengandung inverse. Contoh : Mereka yang kaya merasa miskin, dan yang miskin merasa kaya

25) Majas Simbolik adalah Majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan dengan benda – benda lain. Contoh : Dia menjadi lintah darat

26) Majas Antonomasia adalah Majas yang menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang berdasarkan cirri / sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : Si pincang, Si jangkung, Si kribo

27) Majas Tautologi adalah Majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata – kata yang sama artinya ( bersinonim ) untuk mempertegas arti. Contoh : Saya khawatir dan was – was dengannya

Nah, banyak juga ya Macam-Macam Majas. Untuk lebih mempermudah teman-teman memahami Macam-Macam Majas, setiap macam-macam majas diatas sudah saya sertakan dengan Contoh Majas. Baca juga ya, artikel pendidikan yang sudah saya tulis sebelumnya di Artikel Pendidikan. Oke semoga bermanfaat ya arikel Macam-Macam Majas dan Contohnya.

PERIBAHASA

Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas ,padat yang berisi perbandingan perumpamaan, nasehat , prinsip hidup dan aturan tingkah laku.

Contoh-contoh peribahasa

Angan -angan mengikat tubuh

Memikirkan yang tidak-tidak akhirnya menderita sendiri.

Angin tidak dapat ditangkap, asap tidak dapat digenggam

Sesuatu hal yang tidak dapat dirasakan.

Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam

Orang muda harus bersabar,dalam meraih cita-cita.

Bagai api dengan asap

Persahabatan yang sangat erat.

Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi

Belajarlah sungguh-sungguh jangan tanggung-tanggung(ragu-ragu).

Berjalan sampai kebatas, berlayar sampai kepulau

Kita harus berusaha secara sungguh-sungguh untuk mencapai suatu tujuan.

Biar lambat asal selamat,tak akan lari gunung dikejar

Dalam mengerjakan suatu pekerjaan haruslah berhati-hati supaya selamat.

Dalam lautan dapat diduga, dalam hati siapa tau

Kita tidak mengetahui isi hati orang lain.

Digenggam takut mati, dilepas takut terbang

Serba salah sama-sama merugikan.

Dimana lalang habis, disitu api padam

Hidup dan mati tidak dapat ditentukan, jika sudah saatnya pasti kita akan mati.

Elok basa akan kekal hidup, elok budi akan bekal mati

Orang yang baik budi balasannya akan disayang orang selama hidup dan setelah mati pun akan dikenang orang.

Gigi dengan lidah ada kalanya bergigit juga

Walau persahabatan sangat akrab ada kalanya berselisih juga.

Hidup segan mati pun tak mau

Hidup yang merana karena terus menerus sakit.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati  meninggalkan nama

Orang yang baik bila telah mati, kebaikannya akan dikenang orang.

Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga

Jasa baik sekecil apapun selalu dikenang sepanjang masa.

Hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegeri sendiri , baik juga di negeri sendiri

Betapa senang dan bahagi di perantauan , tentu lebih senag dan bahagia di negeri sendiri.

Ikhtiar menjalani, untung menyudahi

Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya, berhasil tidaknya terserah kepada tuhan.

Kalau tidak angina bertiup, tidak akan pohon bergoyang

Sesuatu hal yang terjadi tentu ada penyebabnya.

Lain dulang lain kaki,lain orang lain hati

Setiap orang punya pendapat, kehendak dan perasaan yang berbeda.

Lancar kaji karena diulang, pasah jalan karena diturut

Segala sesuatu harus dilakukan berulang ulang supaya paham.

Murah dimulut, mahal ditimbangan

Mudah sekali berjanji tetapi tidak pernah menepati.

Tangan merentang bahu memikul

Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.

Yang buta peniup lesung, yang peka pelpas bedil

Masing-masing ada faedahnya, asal diletakkan pada tempatnya.

Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, pepatah. Sebuah pepatah yang menjelaskan aturan dasar perilaku mungkin juga dikenal sebagai sebuah pepatah. Jika peribahasa dibedakan dengan ungkapan yang sangat baik, mungkin akan dikenal sebagai sebuah aforisme.

Beberapa peribahasa merupakan perumpamaan yaitu perbandingan makna yang sangat jelas karena didahului oleh perkataan "seolah-olah", "ibarat", "bak", "seperti", "laksana", "macam", "bagai", dan "umpama".

0 comments:

Poskan Komentar

Bang Faster™ Terima Kasih atas Kunjungannya Jangan Lupa Komentarnya !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by bang-faster | Bloggerized by IrfanzZ - Premium Blogger Themes | Best Web Host